
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Ketika lavar televisi disesaki oleh muka-muka manis para boy/girl band serta ekpresi memelas dari para vokalis band-band alay di lagu-lagu patah hati mereka. Banyak orang yang bertanya,”Apakah ini adalah potret dari musik Indonesia dan generasi pencinta musik Indonesia pada saat ini?”. Walaupun potret tersebut adalah yang paling sering terlihat akhir-akhir ini tetapi bukan berarti satu-satunya potret yang ada dari musik dan para musisi di Indonesia. Salah satu potret lain yang ada dapat kita lihat di salah satu ajang musik ‘cadas’ terbesar di Asia Tenggara yang diadakan di Bandung.
Pada tanggal 18 dan 19 Mei 2012 aku mendapatkan kesempatan untuk menonton sebuah festival musik bernama Bandung Berisik MMXII. Sebuah momen yang sebenarnya telah aku tunggu sejak dua bulan yang lalu aku diinformasikan mengenai acara ini. Walaupun tidak secara intens mendengarkan musik ‘cadas’, aku secara umum menikmati lagu-lagu beraliran keras ini. Selain dari musiknya aku juga ingin merasakan suasana yang akrab dan hangat dari seluruh elemen dalam event ini baik itu para penonton maupun atraksi panggung dari bandnya.
Di hari yang ditentukan itu aku pun meluncur ke venue Bandung Berisik yang berlokasi di Lapangan Udara Sulaiman, Kabupaten Bandung. Ketika sudah mendekati areal event tersebut aku mendengar sayup-sayup suara yang menggelegar dari arah panggung dan dengan tidak sabar aku pun menuju ke arah dimana pertunjukan berlangsung. Band-band dengan nama Power Punk, Dead Squad, Kapital, Raja Singa, dan Rosemary adalah nama-nama yang sama sekali asing. Bahkan Burger Kill yang sudah cukup selebritis pun belum cukup akrab dengan telingaku ini. Tapi aku tidak terlalu peduli karena begitu mereka mulai tampil di atas panggung aku hanya bisa menikmati suasana dan menghentakkan kepalaku. Setelah melihat penampilan penutup dari Jasad aku pulang untuk makan malam, cuci kaki, dan tidur untuk kembali lagi di esok harinya.
Hari kedua aku kembali mengunjungi Lapangan Udara yang telah beralih fungsi tersebut dan mengharapkan nuansa yang lebih gila dibandingkan dengan kemarin. Ternyata harapan itu menjadi kenyataan, dimana rasanya band-band yang tampil di hari itu bermain lebih energik dan aku pun menjadi lebih bersemangat melihat mereka beraksi. Penampilan dari Beside, Karinding Attack, Forgotten, Mesin Tempur, Noxa, Dreamer, dan Death Vomit sepertinya telah membuatku mengalami ejakulasi hati dan telinga di hari itu. Salah satu catatan khusus terhadap Karinding Attack karena mereka menggunakan karinding yang merupakan instrumen tradisional dari Jawa Barat untuk memainkan aliran musik keras ini. Tanpa menggunakan satupun instrumen musik modern penampilan mereka tetap ‘cadas’ dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari penonton di hari itu. Band favoritku sendiri dari event tersebut adalah Death Vomit dari Yogyakarta yang bagiku berpenampilan paling intens dengan energi panggung dan musikalitas yang ‘wah’!
Waktu dan ruang yang terjadi di lapangan becek yang membuatku harus mencuci sepatu yang terendam oleh tanah selama dua hari berturut-turut ini telah berhasil membuka beberapa perspektif diri ini. Aku yang selama ini skeptis terhadap musisi Indonesia kembali bersemangat oleh antusiasme dan kualitas musik yang ditampilkan oleh band-band tersebut. Potret inilah yang ingin aku lihat lebih sering dari dunia musik di Indonesia, bukanlah potret berkualitas buruk yang telah terlalu banyak diedit dengan photoshop dan dijual dengan pigura cantik beraroma mawar.




“Siapa berani lawan gasingku?” karya Emrianus 14 tahunSampai akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2009 Wonder Eyes Project akhirnya tiba ke Indonesia, Bukit Barisan Selatan di Lampung dan desa Tessonilo di Riau lebih tepatnya, untuk kembali melihat dunia dari mata anak – anak di Indonesia.

