
east london mosque
Aahhh… malam memang selalu panas di Jakarta. Mencoba memandang lurus ke depan, meski terhalang kaca helm yang tertutup embun malam. Motorku berjalan di jalanan aspal yang becek setelah hujan yang baru reda tadi. Aku memarkirkan motorku di depan sebuah kafe kecil pinggir jalan, lalu masuk ke dalam dengan masih memakai jaket yang lembab oleh hujan.
Di ujung kiri kafe itu, telah duduk seorang wanita berkulit coklat dengan paras manisnya, di meja – meja yang telah diatur untuk memuat delapan orang. Dengan rambut yang disanggul kecil ke belakang, dia makin terlihat anggun. Sepertinya dia sangat serius memandang monitor notebook yang ada di depannya, sehingga baru menyadari kehadiranku setelah aku menyapanya, “Serius amat Stel, lagi ngeliatin foto gw ya?”. Dia pun memindahkan bola matanya dari monitor dan menatapku, “Eeehh Alta, kapan dateng? Enggak sama Mai?”. “Gak, dia lagi ada urusan keluarga”, Aku pun menjawab sambil menarik sebuah kursi.
Malam itu kami duduk berdua di kafe kecil ini, berbicara selama dua puluh menit tentang apa saja. Aku tidak tahu apakah kami berdua yang datang terlalu cepat atau mereka yang terlambat untuk datang. Karena 6 kursi yang masih kosong ini belum lagi terisi semenjak dua puluh menit yang lalu. Stella adalah seorang teman yang aku kenal ketika aku menjadi anggota Toastmaster. Sebuah klub public speaking dalam bahasa Inggris. Siang tadi dia tiba – tiba meneleponku dan berkata bahwa akan ada acara kumpul – kumpul informal beberapa anggota Toastmaster.
“Tadi loe ngeliatin apa seh? kayaknya serius banget”, Tanyaku pada Stella. “Ini, gw lagi liat – liat aplikasi pendaftaran kuliah S2 di luar negeri”, Dia menjawab. Stella memang pernah beberapa kali bercerita kepadaku tentang keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Pada waktu itu ia menunjukkan ketertarikannya untuk pergi ke negeri Paman Sam dan menunjuk beberapa universitas yang ia minati. Aku pun meresponnya dengan berkata, “Jadi kuliah di Amerika? Mau masuk ke kampus mana? Harvard?… ahahaha norak ya gw, cuma bisa nyebut Harvard doang mentang – mentang di Amerika”. Dia pun ikut tertawa lalu berkata, “Gw gak jadi rencana kuliah di Amrik, udah pindah minat ke Inggris”. Setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut ia pun memindahkan kursinya ke sampingku dan memperlihatkan sesuatu dari dalam monitor notebook-nya.
London South Bank University, MBA in Eurasian Business Management. Nama yang terpampang dari halaman web yang dia tunjukkan padaku. Sebelum aku bertanya kenapa dia bisa berganti haluan. Tanpa berkata apapun ia menunjukkan sebuah halaman web lagi, yang kali ini ternyata adalah sebuah artikel.
Walikota London Ajak Non Muslim Ikut Puasa
Sabtu, 05 September 2009 , 20:20:00
LONDON, (PRLM).- Walikota London, Boris Johnson, menganjurkan para warga non-Muslim untuk ikut berpuasa selama satu hari di tengah bulan Ramadan. Tujuannya, agar mereka bisa memahami tantangan yang tengah dihadapi para umat Muslim di bulan suci ini.Laman harian The Telegraph, Jumat (4/9), mengungkapkan bahwa anjuran itu dilontarkan Johnson saat berkunjung ke Masjid East London dan Pusat Muslim London.
Johnson menyadari bahwa para umat Muslim di London tengah menghadapi “tantangan prasangka tradisional” dalam upaya mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat di ibukota Britania Raya ini.
Maka, sebagai bentuk solidaritas, Johnson menganjurkan penduduk Inggris mencoba memahami tantangan para umat Muslim dalam menjalankan ibadah mereka. “Untuk itulah saya minta masyarakat, terutama selama Ramadan, untuk menggali lebih dalam lagi mengenai Islam dengan meningkatkan pemahaman dan pembelajaran,” kata Johnson.
“Bahkan bisa ikut berpuasa untuk satu hari bersama dengan para tetangga Muslim dan ikut berbuka bersama di masjid lokal. Saya akan sangat terkejut bila kita tidak menyadari bahwa kita selama ini memiliki banyak kesamaan dari yang dikira ” kata Johnson.
Dia pun mengingatkan bahwa para umat Muslim di London telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai profesi. “Semua warga London turut menikmati kontribusi mereka. Umat Muslim ada yang menjadi polisi, dokter, ilmuwan, dan guru. Itu semua merupakan elemen penting bagi London,” kata Johnson.
Laman Times Online mengungkapkan bahwa Inggris saat ini dihuni oleh 1,6 juta umat Muslim. (das)***
“Apa yang kamu pikirin Ta, abis baca tulisan ini?”, Tiba – tiba bertanya padaku. Aku pun menjawab dengan spontan,”Loe mau pindah agama?”. TUKK!! sebuah tangan pun menegur kepalaku dengan lembut. “Dasar!! Gw berubah pikiran gara tulisan yang gw baca ini waktu di bulan puasa kemarin. Heran aja seorang walikota di negara yang agama mayoritasnya bukan muslim, bisa menganjurkan hal ini. Sebenernya alasan gw untuk pindah negara tujuan kuliah S2 itu simpel banget!! Gw cuma pengen ngerasain secara nyata bagaimana toleransi agama di kota itu”.
Setelah menyelesaikan kalimatnya dia pun diam menatap mataku, seolah menunggu apa yang hendak kukatakan. Akhirnya keheningan ini terpecahkan oleh sebuah kalimat yang apabila kuingat terasa amat bodoh, “OOOHH begitu… ngomong – ngomong kok pada belum dateng ya?”. Tiba – tiba dia tersenyum dengan aneh dan berkata, “Aku cuma nelepon kamu kok hari ini”.
Hujan pun kembali turun dengan deras malam itu. Di kafe kecil ini aku duduk mendengarkan seorang wanita bercerita tentang cita – cita dan perasaannya sepanjang malam.
<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!–[endif]–>“Apa yang kamu pikirin Ta, abis baca tulisan ini?”, Tiba – tiba bertanya padaku. Aku pun menjawab dengan spontan,”Loe mau pindah agama?”. PLAKK!! sebuah tangan pun menegur kepalaku dengan lembut. “Dasar!! Gw berubah pikiran gara tulisan yang gw baca ini waktu di bulan puasa kemarin. Heran aja seorang walikota di negara yang agama mayoritasnya bukan muslim, bisa menganjurkan hal ini. Sebenernya alasan gw untuk pindah negara tujuan kuliah S2 itu simpel banget!! Gw cuma pengen ngerasain secara nyata bagaimana toleransi agama di kota itu”.