Galur Soleil – 100% Fiction

Berhenti Sejenak

November 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“NYEET!!”, teriak ku sambil membuka pintu rumah dengan kasar. Melempar jaket motorku ke sofa coklat yang berada di ruang depan.

“KUTU KUPREETT!!! APA – APAAN NEH!!!”, Sofa coklat itu berteriak ketika jaket motorku yang berwarna biru tua menyentuhnya. Ternyata Boma, abangku yang yang bertubuh gendut sedang tertidur di balik sofa tersebut.

Aku tidak menyahut dan terus berjalan menuju kamarku. Tetapi ternyata dia tidak mau melepaskanku begitu saja dan mengikutiku masuk ke dalam kamar.

“WOOOIII!!! Ngapain lu sembarang lempar – lempar jaket busuk ke muka gw??”, Dia bertanya.

Aku hanya berdiri saja tak menjawab.

“JAWAB NJING!!!”, Teriaknya sambil melempar kembali si jaket biru.

Aku pun tersentak dan melempar kembali jaket itu kepadanya.

“Bisa diem gak loe??”, pinta ku. “Loe tahu sendiri kan gw lagi pusing neh. Banyak kerjaan gw yang berantakan, hubungan gw juga lagi buruk, dan la lala al alala yang laennya. Sekarang gw lagi bingung aja mau ngapain lagi. Loe jangan nambah – nambah masalah pas gw nyampe rumah!! Gak ada solusi juga kan loe??”

……… Hening… dan kemudian dia berkata… ”Gimana kalau loe berhenti dulu?”

“BERHENTI!! Becanda loe DUT!! Sekarang justru gw mesti bergerak terus.. cari kesempatan.. cari informasi… sebanyak2nya biar ketemu apa yang bisa nyelesain masalah gw!!!

“Sini deh”.  Dia menarikku dari tempat tidur ke arah lemari pakaian miliknya, kami memang berbagi kamar di rumah ini. Kemudian membuka pintu lemari pakaian tersebut dan menunjukkan sebuah coretan dengan spidol yang berada di dasar ruang kecil itu.

S – top

T – hink

O – bserved

P – lan

“Gw dapet itu pas dulu ikut Pencinta Alam di sekolah. Itu rumus kalau kita nyasar di gunung atau hutan. Tau gak Ta? Kadang kita justru perlu berhenti sebelum menemukan jalan keluar”, Tak lama setelah berkata hal tersebut ia pun berjalan keluar kamar.

Aku sempat melangkah untuk mengejar dan mengajaknya bicara. Tapi aku hentikan langkahku dan memilih untuk berpikir terlebih dahulu.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Toleransi London Beragama

Oktober 7, 2009 · & Komentar

east london mosque

east london mosque

Aahhh… malam memang selalu panas di Jakarta. Mencoba memandang lurus ke depan, meski terhalang kaca helm yang tertutup embun malam. Motorku berjalan di jalanan aspal yang becek setelah hujan yang baru reda tadi. Aku memarkirkan motorku di depan sebuah kafe kecil pinggir jalan, lalu masuk ke dalam dengan masih memakai jaket yang lembab oleh hujan.

Di ujung kiri kafe itu, telah duduk seorang wanita berkulit coklat dengan paras manisnya, di meja – meja yang telah diatur untuk memuat delapan orang. Dengan rambut yang disanggul kecil ke belakang, dia makin terlihat anggun. Sepertinya dia sangat serius memandang monitor notebook yang ada di depannya, sehingga baru menyadari kehadiranku setelah aku menyapanya, “Serius amat Stel, lagi ngeliatin foto gw ya?”. Dia pun memindahkan bola matanya dari monitor dan menatapku, “Eeehh Alta, kapan dateng? Enggak sama Mai?”. “Gak, dia lagi ada urusan keluarga”,  Aku  pun menjawab sambil menarik sebuah kursi.

Malam itu kami duduk berdua di kafe kecil ini, berbicara selama dua puluh menit tentang apa saja. Aku tidak tahu apakah kami berdua yang datang terlalu cepat atau mereka yang terlambat untuk datang. Karena 6 kursi yang masih kosong ini belum lagi terisi semenjak dua puluh menit yang lalu. Stella adalah seorang teman yang aku kenal ketika aku menjadi anggota Toastmaster. Sebuah klub public speaking dalam bahasa Inggris. Siang tadi dia tiba – tiba meneleponku dan berkata bahwa akan ada acara kumpul – kumpul informal beberapa anggota Toastmaster.

“Tadi loe ngeliatin apa seh? kayaknya serius banget”, Tanyaku pada Stella. “Ini, gw lagi liat – liat aplikasi pendaftaran kuliah S2 di luar negeri”, Dia menjawab. Stella memang pernah beberapa kali bercerita kepadaku tentang keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Pada waktu itu ia menunjukkan ketertarikannya untuk pergi ke negeri Paman Sam dan menunjuk beberapa universitas yang ia minati. Aku pun meresponnya dengan berkata, “Jadi kuliah di Amerika? Mau masuk ke kampus mana? Harvard?… ahahaha norak ya gw, cuma bisa nyebut Harvard doang mentang – mentang di Amerika”. Dia pun ikut tertawa lalu berkata, “Gw gak jadi rencana kuliah di Amrik, udah pindah minat ke Inggris”. Setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut  ia pun memindahkan kursinya ke sampingku dan memperlihatkan sesuatu dari dalam monitor notebook-nya.

London South Bank University, MBA in Eurasian Business Management. Nama yang terpampang dari halaman web yang dia tunjukkan padaku. Sebelum aku bertanya kenapa dia bisa berganti haluan. Tanpa berkata apapun ia menunjukkan sebuah halaman web lagi, yang kali ini ternyata adalah sebuah artikel.

Walikota London Ajak Non Muslim Ikut Puasa
Sabtu, 05 September 2009 , 20:20:00
LONDON, (PRLM).- Walikota London, Boris Johnson, menganjurkan para warga non-Muslim untuk ikut berpuasa selama satu hari di tengah bulan Ramadan. Tujuannya, agar mereka bisa memahami tantangan yang tengah dihadapi para umat Muslim di bulan suci ini.Laman harian The Telegraph, Jumat (4/9), mengungkapkan bahwa anjuran itu dilontarkan Johnson saat berkunjung ke Masjid East London dan Pusat Muslim London.

Johnson menyadari bahwa para umat Muslim di London tengah menghadapi “tantangan prasangka tradisional” dalam upaya mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat di ibukota Britania Raya ini.

Maka, sebagai bentuk solidaritas, Johnson menganjurkan penduduk Inggris mencoba memahami tantangan para umat Muslim dalam menjalankan ibadah mereka. “Untuk itulah saya minta masyarakat, terutama selama Ramadan, untuk menggali lebih dalam lagi mengenai Islam dengan meningkatkan pemahaman dan pembelajaran,” kata Johnson.

“Bahkan bisa ikut berpuasa untuk satu hari bersama dengan para tetangga Muslim dan ikut berbuka bersama di masjid lokal. Saya akan sangat terkejut bila kita tidak menyadari bahwa kita selama ini memiliki banyak kesamaan dari yang dikira ” kata Johnson.

Dia pun mengingatkan bahwa para umat Muslim di London telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai profesi. “Semua warga London turut menikmati kontribusi mereka. Umat Muslim ada yang menjadi polisi, dokter, ilmuwan, dan guru. Itu semua merupakan elemen penting bagi London,” kata Johnson.

Laman Times Online mengungkapkan bahwa Inggris saat ini dihuni oleh 1,6 juta umat Muslim. (das)***

“Apa yang kamu pikirin Ta, abis baca tulisan ini?”, Tiba – tiba bertanya padaku. Aku pun menjawab dengan spontan,”Loe mau pindah agama?”. TUKK!! sebuah tangan pun menegur kepalaku dengan lembut. “Dasar!! Gw berubah pikiran gara tulisan yang gw baca ini waktu di bulan puasa kemarin. Heran aja seorang walikota di negara yang agama mayoritasnya bukan muslim, bisa menganjurkan hal ini. Sebenernya alasan gw untuk pindah negara tujuan kuliah S2 itu simpel banget!! Gw cuma pengen ngerasain secara nyata bagaimana toleransi agama di kota itu”.

Setelah menyelesaikan kalimatnya dia pun diam menatap mataku, seolah menunggu apa yang hendak kukatakan. Akhirnya keheningan ini terpecahkan oleh sebuah kalimat yang apabila kuingat terasa amat bodoh, “OOOHH begitu… ngomong – ngomong kok pada belum dateng ya?”. Tiba – tiba dia tersenyum dengan aneh dan berkata, “Aku cuma nelepon kamu kok hari ini”.

Hujan pun kembali turun dengan deras malam itu. Di kafe kecil ini aku duduk mendengarkan seorang wanita bercerita tentang cita – cita dan perasaannya sepanjang malam.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!–[endif]–>“Apa yang kamu pikirin Ta, abis baca tulisan ini?”, Tiba – tiba bertanya padaku. Aku pun menjawab dengan spontan,”Loe mau pindah agama?”. PLAKK!! sebuah tangan pun menegur kepalaku dengan lembut. “Dasar!! Gw berubah pikiran gara tulisan yang gw baca ini waktu di bulan puasa kemarin. Heran aja seorang walikota di negara yang agama mayoritasnya bukan muslim, bisa menganjurkan hal ini. Sebenernya alasan gw untuk pindah negara tujuan kuliah S2 itu simpel banget!! Gw cuma pengen ngerasain secara nyata bagaimana toleransi agama di kota itu”.

→ 3 CommentsKategori: Uncategorized
Ditandai:

Nasionalisme Dalam Batik

Oktober 1, 2009 · & Komentar

 

Batik From Indonesia (World Heritage)
Batik From Indonesia (World Heritage)

Malam yang cukup panas, aku berdiri di tepi jalan sambil menghisap sebatang rokok. Jalanan yang kecil ini ternyata cukup ramai juga di malam hari. “Bagi satu Ta”. Tiba – tiba Jupiter datang menghampiriku dari arah belakang. Kami berdua kembali berdiri menatap jalan sambil mengobrol kecil dan berbagi nikotin. 

Tak lama setelah itu, sebuah mobil Toyota Vios warna merah parkir di sebelah tempat kami berdiri. Seorang pria keluar ditemani seorang gadis yang sepertinya adalah kekasihnya. “Emang kamu gak punya batik, Yang?”, gadis itu bertanya. “Punya seh, cuma aku pengen agak fresh aja”, Pria itu menjawab dan mereka pun berjalan menuju sebuah bangunan di belakang kami.   Sebuah tulisan dengan neon putih terbaca di depan bangunan itu, “Roemah Batik”.  Lampu putihnya berpijar dengan terang. Sepertinya dia cukup gembira dengan kedatangan banyak orang ke tempatnya.

Pada Jumat esok hari UNESCO akan menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Dan sepertinya setelah pada malam ini, omset toko – toko batik meningkat dengan tajam. Besok kami berdua akan terhanyut dalam lautan batik. 

“Loe gak mau pakai batik besok Jup?”, Aku bertanya padanya. ”Loe sendiri?”, Daripada menjawab pertanyaanku dia memilih untuk balik bertanya. Aku pun tertawa kecil sambil membuang puntung rokok ke jalan, “Gw emang pake batik kalau kerja hari Jumat, jadi aman….. Pake batik loe daripada dibilang gak nasionalis… hehehe”. Dia pun tersenyum kecut lalu berkata, “Nasionalisme pasaran!! Mentang – mentang lagi tren isu batik diambil Malaysia, Semua orang tiba - tiba jadi tertarik sama batik dan sejarah. Sekarang semua orang sibuk beli batik buat dipakai di acara seremonial macam beginian. Gw gak tertarik dengan nasionalisme pasar macam beginian!!”.

“Loe ada benernya Jup, tapi sebenarnya ini kemajuan juga buat…………”, Deringan HP memutus kalimat yang masih setengah terucap. Selesai menjawab telepon aku berkata pada Jupiter, “Hani tadi tanya loe mau beli batik juga gak? dia lagi milihin bwat loe”. Tanpa berkata apa pun dia membalikkan punggung dan berjalan menuju bangunan tersebut. “JAdi beli batik JUGA??”, Aku setengah berteriak bertanya padanya.

Jumat besok UNESCO akan meresmikan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Ada yang gembira, tidak peduli, ikut – ikutan gembira, dan ada pula yang sebal seperti kawanku ini. Setelah mendengar pertanyaanku ia pun menoleh ke belakang tanpa membalikkan badan dan berkata, “Gw mau beli celana dalem motif batik!! Nasionalis kan gw??”.

Photo Source: http://crazytittletattle.blogspot.com/2009/04/krafonline-handmade-batik-bag-cloth.html

→ 3 CommentsKategori: Uncategorized