Masyarakat dan Etika Dunia Maya

Posted: Agustus 14, 2011 in Opini Sosial, Budaya, Politik

Berbeda dengan sekitar 10 tahun yang lalu ketika internet masih baru bisa dinikmati oleh segelintir masyarakat Indonesia dan biaya untuk untuk terkoneksi internet pun masih mahal, saat ini internet seakan tidak dapat lepas dari kehidupan masyarakat perkotaan. Dengan harga sekitar Rp. 100 ribu per bulan kita dapat memiliki koneksi internet tanpa batas. Bahkan uang sebesar Rp. 10 ribu pun dapat membuat kita berdiam diri di warnet selama 3-4 jam. Semakin mudah dan murahnya akses kita untuk tekoneksi dengan dunia maya, membuat internet menjadi komoditas pasar yang dapat diakses oleh semua orang dari berbagai golongan. Kondisi ini pun yang membuat semakin pesatnya pertumbuhan situs-situs lokal berbahasa Indonesia, karena pasar yang dituju sekarang sudah semakin luas.

Seiring dengan perkembangan internet dan konsumennya, internet pun berubah fungsinya. Dari yang awalnya hanya sebagai sumber informasi, sampai yang sekarang menjadi tempat berinteraksi antara satu pengguna dengan pengguna lainnya.

Di internet semua orang dari berbagai elemen dapat dengan bebas berpendapat tanpa harus khawatir dengan status sosial yang mereka miliki di masyarakat. Seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA dapat bertukar pikiran dengan seorang pensiunan pegawai negeri. Bahkan seorang pegawai biasa dapat saling berkomentar dengan misalnya seorang direktur perusahaan asing tanpa harus merasa canggung. Karena di dunia maya harta dan tahta seperti tidak ada artinya ketika identitas yang kita miliki hanyalah sebuah user name yang tertera ketika kita menulis komentar .

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, justru positif ketika fenomena dunia maya ini dapat mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih berani mengungkapkan pendapatnya. Tetapi yang menjadi masalah adalah ternyata masih banyak bagian dari masyarakat kita yang belum siap dengan hal tersebut. Kebebasan berpendapat di dunia maya sering kali terganti menjadi kebablasan berpendapat, dan alih-alih berpendapat untuk menyampaikan informasi ataupun bertukar pikiran seringkali forum tersebut digunakan untuk menyebarkan kebencian.

Salah satu contoh paling jelas adalah kolom komentar di Detik.com bagian sepakbola. Sepak bola adalah salah satu olah raga paling populer di dunia yang entah kenapa memiliki magnet khusus terhadap banyak orang. Olah raga ini pun dapat melahirkan fanatisme-fanatisme yang terkadang berlebihan. Dari banyaknya jumlah komentar di setiap artikel detik.com mengenai sepak bola apabila dibandingkan dengan bagian lainnya, dapat terlihat apabila kolom sepak bola adalah sudut terpopuler dari situs ini.

Sayangnya kuantitas komentar-komentar yang terdapat di sana tidak dibarengi dengan kualitas yang baik dari para pemberi komentar. Memang ada beberapa komentar yang berkualitas baik, namun sebagian besar dari komentar-komentar tersebut masih berisikan lontaran kata-kata kasar dan saling menghina antar mereka. Yang lebih parah lagi ketika perang komentar itu sudah mengandung unsur SARA dalam perdebatannya. Mungkin wajar bila hal ini hanya terjadi beberapa kali saja, tapi sayangnya hampir semua artikel sepakbola di situs ini berisi dengan komentar-komentar kotor seperti itu. Apabila kita adalah seseorang yang gemar untuk mengikuti berita-berita sepak bola baik di detik.com maupun di situs yang lain, kita pasti akan merasa sangat terganggu dan beranggapan bahwa komentar-komentar yang ada sudah tidak sehat. Sepertinya detik.com juga berpendapat seperti itu karena apabila kita sekarang membuka situs tersebut, kita tidak menemukan lagi fitur komentar pada artikel-artikel yang berhubungan dengan sepakbola.

Keadaan dimana ketika kita dapat menyuarakan pendapat terhadap isu maupun seseorang tanpa harus bertatap muka langsung membuat kita merasa lebih bebas dan berani untuk berpendapat. Ada anggapan yang muncul bahwa hal tersebut sebenarnya dapat teratasi dengan peran administrator dari situs yang memoderasi komentar-komentar yang masuk. Tapi hal itu hanya bagaikan memberikan obat pada luka, yang hanya mengobati hasil luka tanpa bertanya kenapa luka itu ada. Masalah sebenarnya ada pada ketidaksadaran banyak orang bahwa bahkan di dunia maya etika itu adalah hal yang tetap perlu dijaga.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja bahkan di negara-negara yang sudah maju dan lebih melek internet dari kita sekalipun. Apabila kita membuka situs youtube.com kita akan menemukan banyak komentar-komentar yang serupa dilontarkan dalam bahasa Inggris. Apabila begitu bagaimana caranya kita mengobati luka yang sudah menjadi borok secara global ini?

Ketika memoderasi komentar bukanlah jawabannya dan melakukan edukasi secara luas memerlukan usaha yang terlalu besar, jalan termudah memulainya adalah dari rumah. Rumah adalah tempat dimana semua perilaku kita di masyarakat berasal dan rumah pula tempat dimana kita dapat menanamkan nilai-nilai hidup dengan baik. Apabila kita adalah orang tua maka bermain internetlah dengan anak kita dan ajarkan mereka bagaimana bertutur kata yang baik di internet. Hal yang sama pun dapat kita lakukan apabila kita adalah seorang kakak atau anggota keluarga lainnya seperti om atau tante.

Cara seseorang untuk bertutur dan bertingkah laku serta bagaimana mereka menjaga etika di masyarakat adalah cerminan dari pendidikan yang mereka peroleh dari rumah. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi dan internet, berkembang pula struktur masyarakat yang kita kenal saat ini. Masyarakat bukan hanya mereka yang kita temui di jalan dan ruang-ruang publik lainnya, masyarakat juga telah terbentuk di dalam internet. Karena kita perlu membekali diri kita dan orang-orang yang berada di rumah kita kemampuan untuk bermasyarakat di dalam dunia maya.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s