Jujur saja aku bukanlah orang yang menyukai hal-hal yang berbau trend sesaat dalam bentuk apapun itu. Aku juga selalu berusaha menghindar dan memilih untuk tidak ikut-ikutan apabila ada trend yang sedang heboh di masyarakat pada saat itu dan banyak orang termasuk mereka yang berada di sekitarku terkena virus dari trend sesaat tersebut. Karena bagiku trend sesaat adalah lambang kelabilan dari suatu masyarakat yang tidak memiliki jati diri alias simbol bangsa ababil.
Hal itu pun berlaku ketika beberapa tahun lalu Indonesia terkena demam nasionalisme batik . Memang pada saat itu negara tetangga kita yaitu Malaysia sedang gencar-gencarnya mencoba mencuri kebudayaan nasional bangsa Indonesia dan berusaha untuk mematenkannya. Seingatku beberapa budaya seperti angklung, tari saman, dan tari pendet pernah mereka coba akui sebagai budaya asli negara mereka. Tapi diantara semuanya, usaha pengakuan batik sebagai karya asli negara Malaysia adalah yang paling heboh dan juga paling menggugah semangat yang bangsa kita sebut sebagai rasa nasionalisme.
Akhirnya makin banyaklah orang yang memakai batik untuk menunjukkan bahwa batik adalah budaya bangsa Indonesia. Kalau dulu aku hampir tidak menemukan para pemakai batik kecuali di acara-acara formal. Sekarang hampir setiap hari baik itu di jalan, bis kota, maupun mall aku seringkali berpapasan dengan orang yang memakai pakaian batik. Batik pun mulai bermunculan di pasar dengan berbagai merek dan mode.
Terus terang bagiku hal tersebut terasa menyebalkan. Terlalu responsif, begitulah yang ada di dalam pikiranku. Bertindak karena kebakaran jenggot dan menjadi perduli karena merasa terganggu. Nasionalisme seperti ini bagiku hanyalah nasionalisme semu saja. Untung saja perusahaan tempatku bekerja pada saat itu tidak ikut-ikutan mewajibkan karyawannya berpakaian batik pada hari Jumat. Aku pun di masa itu sering menolak untuk memakai batik karena jenuh dengan pemberitaan dan ekspos yang menurutku terlalu berlebihan ini.
Sekarang mungkin sudah sekitar 4 tahun semenjak batik kita hendak dicuri oleh negara tetangga kita tersebut. Media pun sudah tidak begitu heboh lagi memberitakan tentang batik. Tetapi entah kenapa aku tiba-tiba membaca sebuah artikel di Kompas yang bercerita tentang World Batik Summit 2011, festival fashion internasional bertemakan batik. Para desainernya pun bukan hanya dari Indonesia saja melainkan dari negara-negara Asia lainnya seperti Jepang dan Cina. Kemudian aku membalik halaman koran tersebut dan melihat berita lain yang juga tentang batik. Kali ini adalah sebuah film dokumenter berjudul “Batik, Our Love Story” yang disutradarai oleh Nia Dinata.
Jujur saja pada saat aku membaca kedua artikel tersebut terbersit perasaan bangga di dalam hati ini. Aku pun harus mengakui bahwa batik yang ada di fotonya pun terlihat sangat indah. Memang aku tidak tahu jelas apakah insiden nasionalisme batik mempunyai pengaruh terhadap terciptanya World Batik Summit dan film dokumenter tentang batik ini. Tapi harus kita akui bahwa media massa dan masyarakat kita secara umum lebih menghargai batik sebagai budaya Indonesia semenjak kejadian tersebut. Sehingga proyek-proyek yang berhubungan dengan batik pun menjadi lebih mudah untuk dijual serta mendapatkan dukungan dana. Aku pun mulai berpikir, “Mungkin terkadang trend sesaat itu memang diperlukan”.
